A.
Sumber
dan Kelimpahan Unsur-Unsur Golongan IIIA
Sumber Unsur-Unsur Golongan IIIA
Aluminium adalah salah satu logam terpenting
yang tedapat dalam kerak bumi. Bijih aluminium yang digunakan untuk produksi
aluminium adalah bauksit. Bauksit mengandung hidrat aluminium oksida, Al2O3.H2O,
dan Al2O3.3H2O serta oksida besi, silikon,
titanium, sedikit tanah liat dan silikat. Kadar Aluminium Oksida (Alumina)
dapat mencapai 35% – 60%.
Boron tidak ditemukan di alam,
tetapi timbul sebagai asam othorboric dan biasanya ditemukan dalam
sumber mata air gunungberapi dan sebagai borates di dalam boron
dan colemantie. Ulexite, mineral boron yang lain dianggap sebagai
serat optic alami. Sumber-sumberpenting boron
adalah rasorite (kernite) dan tincal (bijih borax). Kedua bijih
ini dapat ditemukan di gurun Mojave. Tincal merupakan sumber penting boron
dari Mojave. Deposit borax yang banyak juga ditemukan di Turkey. Boron
muncul secara alami sebagai campuran isotop 10B sebanyak 19.78% dan
isotop 11B 80.22%. Boron bukan konduktor listrik yang bagus pada suhu
ruangan, tetapi pada suhu yang lebih tinggi.
Galium seringditemukansebagaielemen yang
terkandung di dalamdiaspore, sphalerite, germanite, bauksit dan
batubara. Analisa debu dari hasil pembakaran batubara pernah menunjukkan kandungan
gallium sebanyak 1.5%.
Indium sering diasosiasikan dengan seng
dan dari bahan inilah indium diproduksi secara komersil. Ia juga ditemukan di
bijih besi, timbale dan tembaga.
Talium terdapat di crooksite,
lorandite, dan hutchinsonite. Ia juga ada dalam pyrites dan
diambil dengan cara memanggang bijih ini. Talium juga dapat diambil dengan cara
melebur bijih timbale dan seng. Proses pengambilan talium agak kompleks dan
tergantung sumbernya. Manganes nodules, ditemukan di dasar samudera
juga mengandung talium.
Kelimpahan Unsur-Unsur Golongan IIIA
Aluminium terdapat melimpah dalam kulit bumi,
yaitu sekitar 7,6 %.Dengan kelimpahan sebesar itu, aluminium merupakan unsur
ketiga terbanyak setelah oksigen dan silikon, serta merupakan unsur logam yang
paling melimpahtetapi tidak ditemukan dalam bentuk unsur bebas di alam.
Walaupun senyawaaluminium ditemukan paling banyak di alam, selama
bertahun-tahun tidakditemukan cara yang ekonomis untuk memperoleh logam
aluminium darisenyawanya. Oleh karena itu aluminium tetap merupakan logam yang
mahal karena pengolahannya sukar. Mineral aluminium yang bernilai ekonomis
adalahbauksit yang merupakan satu-satunya sumber aluminium. Bauksit mengandung
aluminium dalam bentuk aluminium oksida (Al2O3). Kriloit digunakan padapeleburan
aluminium, sedang tanah liat banyak digunakan untuk membuat batubata, keramik.
Di Indonesia, bauksit banyak ditemukan di pulau Bintan dan di tayan(Kalimantan
Barat). Aluminium (Al) adalah unsur logam yang biasa dijumpai dalam
kerak bumi yang terdapat dalam batuan seperti felspar dan mika. Umumnya juga
dalam bentuk aluminium silikat dan campurannya dalam logam lain seperti
natrium, kalium, furum, kalsium & magnesium. Kelimpahan Aluminium dalam
kulit bumi (ppm) sebesar 81,300.
Galium (Ga) terdapat dalam jumlah yg sedikit di
alam, yaitu dalam bentuk bauksit, pirit, magnetit dan kaolin. Biji Galium(Ga)
sangat langka tetapi Galium (Ga)terdapat di logam-logam yang lain.
Kelimpahan Galium dalam kulit bumi (ppm) sebesar 15.
Indium tidak pernah ditemukan dalam bentuk
logam bebas di alam, tetapi dalam bentuk sulfida (In2S3)
dan dalam bentuk campuran seng, serta biji tungsten, timah dan besi. Kelimpahan
Indium dalam kulit bumi (ppm) sebesar 0,1.
Di alam Talium terdapat dalam
bentuk batu-batuan dan merupakan keluarga logam aluminium yang terdapat dalam
bentuk gabungan dengan pirit, campuran seng dan hematit.
Kelimpahan Talium dalam kulit bumi (ppm) sebesar 2.
B. Sifat Logam Golongan IIIA
Sifat Fisik
Al
|
Ga
|
In
|
Tl
|
|
Konfigurasi elektron terluar
|
3S23P2
|
4S24P1
|
5S25P1
|
6S26P1
|
Jari-jari logam (pm)
|
143
|
141
|
166
|
171
|
Jari-jari ion (pm)M+
M3+
|
-50
|
11362
|
13281
|
14095
|
Energi Ionisasi pertama (KJ/mol)
|
576,4
|
578,3
|
558,1
|
589
|
Keelektronegatifan (Skala Pauling)
|
1,5
|
1,6
|
1,7
|
1,8
|
Potensial Elektroda ( V )M+
(aq) + e M ( p)
M3+ (aq) +
3e M (p)
|
-
-1,66
|
-
-0,56
|
-0,25
-0,34
|
-0,34
+0,72
|
Titik Cair ( oC)
|
660,4
|
29,8
|
156,6
|
303,5
|
Titik didih ( oC)
|
2467
|
2403
|
2080
|
1457
|
Kelimpahan dalam kulit bumi (ppm)
|
81,300
|
15
|
0,1
|
2
|
Kecenderungan sifat logam golongan
IIIA:
- Jari-jari logam cenderung berkurang dari Ga- Tl, kecuali logam Al
- Jari-jari ion cenderung meningkat dari Al – Tl
- Energi ionisasi pertama unsur golongan IIIA cenderung berkurang dari Al – Tl
- Keelektronegatifan unsur golongan IIIA cenderung bertambah dari Al – Tl
- Titik cair unsur golongan IIIA cenderung bertambah dari Ga – Tl, kecuali Al memiliki titik cair yang besar
- Titik didih unsur golongan IIIA cenderung berkurang dari Al – Tl
Potensial reduksi negatif menyatakan
bahwa unsur lebih bersifat logam dibandingkan hidrogen. Energi pengionan dari
logam golongan IIIA hampir sama satu sama lain, kecuali energi hidrasi Al3+
merupakan yang terbesar di antara kation golongan IIIA. Hal ini menjelaskan
bahwa Al3+ mempunyai potensial reduksi negatif yang paling besar di
antara kation golongan IIIA dan bahwa Al adalah logam yang paling aktif.
Sifat menarik dari unsur Ga, In, dan
Tl yang tidak terdapat pada Al adalah kemampuan membentuk ion bermuatan satu.
Kemampuan ini menunjukkan adanya pasangan elektron lembam, nS2,
dalam atau dari unsur pasca-peralihan (post-transition). Jadi, sebuah atom Ga
dapat kehilangan elektron pada 4p dan mempertahankan elektron 4s untuk
membentuk ion Ga+, dengan konfigurasi elektron [Ar]3d104s2.
Kemungkinan ini lebih mudah terjadi pada atom yang lebih berat dalam golongan.
Dalam kenyataannya , talium dengan bilangan oksidasi +1 lebih mantap dalam
larutan berair dibanding taliuum dengan bilangan oksidasi +3.
Ukuran ion yang kecil, besarnya
muatan ion, dan tingginya energi ionisasi menyebabkan logam golongan IIIA
umumnya memiliki sifat kovalen yang tinggi ( ion Al3+ tidak dijumpai
kecuali dalam ALF3 padat). Dalam larutan berair, ion Al3+
berada dalam bentuk ion terhidrat Al(H2O)63+ atau
dalam bentuk kompleks lainnya. Al sangat stabil terhadap udara, karena
membentuk lapisan oksida pada permukaannya yang digunakan untuk melindungi
logam dari oksidasi lebih lanjut.
Sifat
Kimia
Sifat kimia galium serupa dengan aluminium.
Talium mempunyai beberapa kesamaan dengan timbal, misalnya rapatannya yang
tinggi (11,85 g/cm3), lunak, dan bersifat racun dari
senyawanya. Pemanasan unsur golongan IIIA dalam oksigen menghasilkan
seskuioksida (M2O3).
Semua logam golongan IIIA
dapat bereaksi dengan halogen membentuk senyawa trihalida. Fluorida-fluorida
Al, Ga, dan In adalah ionik, titik leleh tinggi ( berturut-turut 1290, 950, dan
1170 oC), sukar larut dalam air ( energi kisi tinggi); sedangkan
klorida, bromida, dan iodidanya mempunyai titik leleh lebih rendah, bersifat
kovalen dengan bilangan koordinasi yang bervariasi. Unsur-unsur golongan IIIA
tidak dapat membentuk hidrida secara langsung dengan hidrogen, AlH3
ada dalam bentuk polimer ( AlH3)n, dimana antara atom Al dihubungkan
dengan jembatan hidrogen. AlH3 dibuat dengan mereaksikan LiH
dengan AlCl3 dalam pelarut eter, bila LiH berlebih.
C.
Cara
memperoleh dan Isolasi Unsur-Unsur Golongan IIIA
Cara Memperoleh Unsur-Unsur Golongan
IIIA
Pada tahun 1825, Oersted. Memperoleh
aluminium murni dengan cara mereduksi aluminium klorida dengan
kalium-merkurium.
Kemudian dengan distilasi, merkurium
dapat dihilangkan dan akhirnya diperoleh logam aluminium. Pada tahun 1854,
Henri Sainte dan Claire Deville membuat aluminium dari natrium aluminium
klorida dengan cara memanaskannya dengan logam natrium.
Pada tahun 1886, Charles Hall mulai
memproduksi aluminium dengan proses skala besar seperti sekarang, yaitu melalui
elektrolisis alumina di dalam kriolit lebur. Pada tahun itu pula Paul Herault
mendapat paten Perancis untuk proses serupa dengan proses Hall. Pada tahun
1980, produksi dunia dengan proses ini mencapai 107 ton. Pada proses
ini aluminium diperoleh dengan cara katalis aluminium oksida yang dilarutkan
dalam leburan kriolit (Na3AlF6).
Bahan baku bauksit, masih merupakan
campuran aluminium oksida, besi(III) oksida dan silika. Jadi ada dua
tahap dalam produksi aluminium yaitu reaksi pemurnian untuk memperoleh alumina
murni dan tahap elektrolisis.
- Reaksi Pemurnian:
Alumina tidak dapat direduksi dengan
karbon, karena adanya pembentukan Al4C3 (aluminium
karbida), dan reaksi balik antara uap aluminium dengan CO2 di dalam
kondensor akan menyebabkan terjadinya pembentukan aluminium oksida sebagaimana
semula. Perubahan entalpi yang terjadi dalam reaksi itu adalah sebagai berikut:
- Elektrolisis dibuat dari baja, yang dilapisi grafit. Grafit ini berfungsi sebagai katoda. Anoda dibuat dari karbon.
Secara sederhana, reaksi pada
elektroda dapat dituliskan sebagai berikut,
Oksigen yang terbentuk pada suhu
operasi dapat mengoksidasi anoda.
Reaksi secara keseluruhan dapat
ditulis sebagai berikut:
Karbon yang diperlukan untuk reduksi
berasal dari anoda dan untuk itu diperlukan antara 0,5sampai 0,6 kg karbon per
kilogram logam. Walaupun secara teoritis yang diperlukan sebetulnya hanyalah
0,33 kg, namun karena karbondioksida yang keluar itu mengandung 10% sampai 15%
karbon monoksida (CO), maka jumlah yang diperlukan dalam praktik tentu lebih
besar. Langkah-langkah pembuatan logam aluminium adalah sebagai berikut.
- Pasang atau ganti pelapis sel.
- Buat anoda karbon dan gunakan di dalam sel.
- Siapkan penangas kriolit dan kendalikan komposisinya.
- Larutkan alumina di dalam kriolit lebur.
- Larutan alumina dielektrolisis sehingga membentuk aluminium logam yang bertindak sebagai katoda.
- Karbon electrode teroksidasi oleh oksigen yang dibebaskan.
- Aluminium cair dialirkan keluar dari sel, dipadu (bila perlu), dicetak menjadi logam batangan dan didinginkan.
Sel elektrolit berbentuk kotak baja
besar. Di dalamnya terdapat kompartemen katode yang dilapisi dengan campuran
pitch dan batu bara antrasit atau dengan kokas yang dipanggang di tempat dengan
bantuan arus listrik, atau dengan blok-blok katoda yang telah dipanggang dan
kemudian di semenkan satu sama lain. Lubang kompartemen katode itu mempunyai
kedalaman 30 sampai 50 cm, dengan lebar mencapai 3 m danpanjang 9 m bergantung
pada jenis sel dan beban yang direncanakan. Tebal pelapis berkisar antara 15
sampai 25 cm pada bagian sisi dan 26 sampai 46 cm pada bagian dasar. Di antara
dinding baja dan pelapis dipasang isolasitermal yang terdiri dari baja tahan
panas, blok asbes, atau bahan lain. Pada pelapis bagian dasar dipasang batangan
baja besar yang berfungsi sebagai pengumpul arus katode. Batangan ini menjulur
keluar melalui lubang pada kotak baja dan dihubungkan dengan batangan
pengantarkatoda. Pelapis sel biasanya tahan 2 sampai 4 tahun. Kerusakan
biasanya terjadi karena penyusupan logam melalui katoda sehingga melarutkannya
atau karena penetrasi logam keluar dari kotak baja melalui kebocoran di sekitar
kolektor arus. Keseluruhan pelapis, isolasi dan kolektor itu kemudian diganti.
Pelapisan kembali kotak sel merupakan sebagian besar dari biaya produksi dan di
sini tercakup bukan saja tenaga kerja, kolektor, pelapis dan bahan isolasi,
tetapi juga kehilangan bahan elektrolit yang diserap oleh pelapis yang
terpakai. Gambar skematik penampang penangas reduksi aluminium ditunjukkan
seperti gambar berikut ini:
Selama beroperasi nyasel, terjadi
pembentukan kerak di atas permukaan penangas lebur. Alumina ditambahkan keatas
kerak ini, dimana alumina mengalami pemanasan dan melepaskan kandungan airnya.
Kerak ini dipecahkan secara berkaladan alumina diaduk kedalam penangas agar
konsentrasinya tetap berada di sekitar 2% sampai 6%. Kebutuhan teoristis
alumina adalah 1,89 kg per kilogram aluminium. Tetapi dalam praktik, angkanya
kira-kira 1,91 kg. Bilamana kadar alumina di dalam penangas berkurang, dan efek
anode berlangsung, maka pada anode terbentuk suatu lapisan tipis karbon tetrafluorida
dan penangas tidak dapat lagi membasahi permukaan anode. Mengenai mekanisme
yang sebenarnya terjadi dari pelarutan alumina di dalam penangas dan bagaimana
mekanisme dekomposisi elektrolitiknya masih belum jelas.
Tetapi hasil akhirnya adalah pembebasan
oksigen pada anode dan pengendapan logam aluminium pada katode. Oksigen
bergabung dengan anode karbon dan menghasilkan CO dan CO2, tetapi
yang terbanyak adalah CO2.
Dalam Pembuatan Boron, menurut
Moissan, unsure ini diperoleh melalui perubahan menjadi asam borat yang disusul
kemudian dengan dehidrasi menjadi B2O3, kemudian
direduksi dengan logam magnesium. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Hasil yang didapatkan berupa boron
amorf yang mengandung 80% – 90% boron. Boron yang kemurniannya tinggi untuk
semikonduktor, menurut Kiessling dapat diperoleh lewat reduksi BBr3dengan
Hidrogen pada suhu 800
Cara Isolasi Unsur-Unsur Golongan
IIIA
Aluminium dibuat menurut proses
Hall-heroult yang ditemukan oleh Charles M.Hall di Amerika Serikat dan Paul
Heroult tahun 1886. Pengolahan aluminium dan bauksit meliputi 2 tahap :
1. Pemurnian bauksit untuk meperoleh
alumina murni.
2. Peleburan / reduksi alumina dangan
elektrolisis
1. Pemurnian bauksit melalui cara :
Tahap pemurnian bauksit dilakukan
untuk menghilangkan pengotor utamadalam bauksit. Pengotor utama bauksit
biasanya terdiri dari SiO, Fe2O, dan TiO2. Caranya adalah
dengan melarutkan bauksit dalam larutan natrium hidroksida (NaOH),
Aluminium oksida larut dalam NaOH
sedangkan pengotornya tidak larut. Pengotor- pengotor dapat dipisahkan melalui
proses penyaringan. Selanjutnya aluminiumdiendapkan dari filtratnya dengan cara
mengalirkan gas CO2 dan pengenceran.
Endapan aluminium hidroksida
disaring,dikeringkan lalu dipanaskan sehinggadiperoleh aluminium oksida murni
(Al2O3).
2. Peleburan / reduksi alumina
dangan elektrolisis
Tahap peleburan alumina dengan cara
reduksi melalui proses elektrolisis menurut proses Hall-Heroult. Dalam proses
Hall-Heroult,aluminum oksida dilarutkan dalam lelehan krinolit (Na3AlF6)
dalam bejana baja berlapis grafit yang sekaligus berfungsi sebagai katode.
Selanjutnya elektrolisisdilakukan pada suhu 950oC. Sebagai anode
digunakan batang grafit.
Dalam proses elektrolisis dihasilkan
aluminium di katoda dan di anoda terbentuk gas O2 dan CO2
Galium (Ga) biasanya adalah hasil samping dari
produksi Aluminium pemurnian bauksit dengan proses bayer. Elektrolisis
menggunakan elektroda Hg memberikan konsentrasi dan elektrolisis menggunakan
katoda stanleysteel dari natrium galat, menghasilkan leburan logam Galium
(Ga). Talium biasanya diperoleh
dengan elektrolisis larutan garam-garamnya dalam air, bagi Ga dan In
kemungkinan ini bertambah karena besarnya tegangan lebih untuk evolusi
hidrogen dari logam-logam ini. Indium (In)biasanya diperoleh dengan
elektrolisis larutan garam-garamnya dalam air, bagi Ga dan In kemungkinan
ini bertambah karena besarnya tegangan lebih untuk evolusi hidrogen dari
logam-logam ini.
D.
Reaktifitas Unsur-Unsur Golongan
IIIA
Sifat
kimia golongan IIIA menggambarkan sifat logamnyanya. Sifat logamnya
naik dari atas ke bawah dalam satu golongan. Boron
secara kimia tidak reaktif kecuali pada
temperature tinggi. Aluminium adalah logam dengan reaktifitas yang tinggi.
Aluminium segera teroksidasi dalam udara. Oksida
aluminium yang terbentuk tahan terhadap asam
tapi larut dalam larutan basa. Aluminium dapat bereaksi dengan Besi (III)
oksida menghasilkan besi.
E. Senyawaan dan Reaksi Unsur-Unsur
Golongan IIIA
Senyawaan Unsur-Unsur Golongan IIIA
Senyawa yang memiliki kegunaan besar
adalah aluminium oksida, sulfat, dan larutan sulfat dalam kalium. Oksida
aluminium, alumina muncul secara alami sebagai ruby, safir, corundum dan
emery dan digunakan dalam pembuatan kaca dan tungku pemanas
Beberapa senyawaan aluminium
diantaranya adalah :
a)
Aluminium Nitrida
Aluminium Nitrida (AlN) dapat dibuat
dari unsur-unsur pada suhu 800 0C. Itu dihidrolisis dengan air membentuk
ammonia dan aluminium hidroksida
b)
Aluminium Hidrida
Aluminium hidrida (AlH3)n
dapat dihasilkan dari trimetilaluminium dan kelebihanhydrogen. Ini dibakar
secara meledak pada udara. Aluminium hidrida dapat jugadibuat dari reaksi
aluminium klorida pada litium klorida pada larutan eter, tetapi tidak dapat
diisolasi bebas dari pelarut.
c)
Aluminium oksida (Al2O3) dapat dibuat dengan pembakaran
oksigen ataupemanasan hidroksida,nitrat atau sulfat.
d) Aluminium
halogen
Contoh : – aluminium iodida : AlI3
- aluminium flourida : AlF3
- krinolit (Na3AlF6)
e)
Aluminium silikat
- Mika (K-Mg-Al-Slilkat)
- Tanah liat (Al2Si2O7.2H2O)
- Feldspar
Reaksi Unsur-Unsur Golongan IIIA
1. Reaksi aluminium dengan udara
Aluminium adalah logam berwarna
putih keperakan. Permukaan logam aluminium dilapisi dengan lapisan oksida yang
membantunya melindungi logam agar tahan terhadap udara. Jadi, aluminium
tidak bereaksi dengan udara. Jika lapisan oksida rusak, logam aluminium
bereaksi untuk menyerang (bertahan). Aluminium akan terbakar dalam oksigen
dengan nyala api, membentuk aluminium (III) oksida Al2O3.
2. Reaksi aluminium dengan air
Aluminium adalah logam berwarna
putih keperakan. Permukaan logam aluminium dilapisi dengan lapisan oksida yang
membantunya melindungi logam agar tahan terhadap udara. Hal serupa juga terjadi
pada reaksi aluminium dengan air.
3. Reaksi aluminium dengan asam
Logam aluminium larut dengan asam
sulfur membentuk larutan yang mengandungion Al (III) bersama dengan gas
hidrogen.
Reaksi : 2Al(s) + 3H2SO4(aq)
→ 2Al3+ (aq) + 2SO42-(aq) + 3H2 (g)
2Al(s)+ 6HCl(aq) → 2Al3+(aq)
+ 6Cl-(aq) + 3H2 (g)
4. Reaksi aluminium dengan basa
Aluminium larut dengan natrium
hidroksida.
Reaksi : 2Al(s) + 2 NaOH(aq) + 6 H2O
→ 2Na+(aq)+ 2 [Al (OH)4]- + 3H2 (g)
5. Reaksi aluminium dengan halogen
Aluminium sangat reaktif terhadap
unsur –unsur halogen seperti iodin (I2), klorin(Cl2), bromin
(Br2), membentuk aluminium halida menjadi aluminium (III)
iodida,aluminium (III) bromida, aluminium(III) klorida.
Reaksi : 2 Al + 3 X2
→ 2 Al2X6
2Al(s)+ 3I2(l)→ 2 Al2I6(s)
2Al(s) + 3Cl2(l) → 2 Al2Cl3
2Al(s) + 3Br2(l) → 2 Al2Br6
Sabtu, 29 Juni 2013